Oleh Ustadz Sularto, S.Ud

Pembaca Buletin Mahadul Qur’an Yang Berbahagia !

       Setiap manusia yang hidup di dunia termasuk seorang muslim pasti memiliki beragam cita-cita. Dan cita-cita yang hendaknya didambakan oleh setiap muslim adalah masuk kedalam surga dan dijauhkan dari api neraka. Karena sejatinya itulah kesuksesan dan kebahagiaan yang hakiki. Allah ﷻ berfirman,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Artinya:“Barang siapa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga; sungguh ia telah sukses”. [QS. Ali Imran: 185]

Rosulullah ﷺ bersabda,

       Masuk Surga adalah cita-cita yang sangat tinggi. Dan setiap cita-cita yang tinggi pasti membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang maksimal. Tidak ada cita-cita mulia yang bisa didapatkan dengan santai dan berpangkutangan.

أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ

Artinya:“Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu adalah surga”. [HR. Tirmidzi]

       Karena itulah, ketika salah seorang sahabat yang bernama Rabi’ah t diberikan kesempatan untuk meminta sesuatu yang akan dikabulkan oleh Rosulullah , dan beliaupun meminta agar bisa masuk kedalam surga bersama Rosulullah serta dijauhkan dari neraka, maka ternyata Rosulullah ﷺ tidak serta merta mengabulkan permintaannya. Namun beliau menjawab,

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Artinya:“Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan engkau perbanyak sujud (shalat)”. [HR. Muslim]

Ini menunjukkan bahwa untuk menggapai cita-cita mulia tersebut kita harus berjuang dan berkorban.

       Diantara hal yang perlu kita usahakan dalam ikhtiyar kita untuk mendapatkan surga dan dijauhkan dari neraka adalah sebagai berikut,

Meneguhkan Keimanan Dan Tauhid Kepada Allah ﷻ Serta Menjauhi Kesyirikan.

Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Allah ﷻ dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun Allah ﷻ akan mengampuni dosa-dosanya dan akan memasukkannya kedalam surga. Allah ﷻ berfirman dalam hadis qudsi,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.

Artinya:“Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika meninggal tidak menyekutukan Aku sedikit pun juga, pasti Aku akan berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.” [HR. At-Tirmidzi]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

Artinya: “Barangsiapa yang meninggal dan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah, maka ia akan masuk Surga.” HR. Muslim

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ مَاتَ لاَيُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.

Artinya: “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, ia akan masuk Surga.” HR. Muslim

Sebaliknya barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat dari perbuatan syirik. Dia masih menyembah selain Allah ﷻ, meminta dan berdoa kepada selain Allah ﷻ dan berbagai jenis kesyirikan yang lainnya. Maka semua amalan kebaikan yang telah ia usahakan akan sirna, dosanya tidak diampuni, diharamkan baginya surga dan tempatnya adalah di dalam neraka.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”(QS. Al An’am: 88).

Allah ﷻ juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).

Allah ﷻ juga berfirman,

إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,” (QS. Al Maidah: 72).

Maka marilah senantiasa waspada dan selalu memohon perlindungan kepada Allah agar tidak terjerumus dalam perbuatan syirk baik disengaja maupun tidak.

Berusaha semaksimal mungkin melaksanakan kewajiban dan ketaatan serta menjauhi dosa.

Melaksanakan kewajiban dan ketaatan akan mendatangkan rahmat dari Allah serta kebahagiaan dunia akhirat. Adapun dosa dan kemaksiatan akan mengotori hati dan mendatangkan murka serta siksa Allah ﷻ. Nabi ﷺ bersabda,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

Artinya: “Dan tidaklah hambaku mendekatkan diri kepadaku dengan suatu ibadah yang lebih aku cintai daripada mengerjakan kewajiban.” (HR. Bukhari, no. 2506)

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺫْﻧَﺐَ ﺫَﻧْﺒًﺎ ﻧُﻜِﺖَ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻧُﻜْﺘَﺔٌ ﺳَﻮْﺩَﺍﺀُ ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﺎﺏَ ﻭَﻧَﺰَﻉَ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔَﺮَ ﺻُﻘِﻞَ ﻗَﻠْﺒُﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺯَﺍﺩَ ﺯَﺍﺩَﺕْ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻌْﻠُﻮَ ﻗَﻠْﺒَﻪُ

Artinya:”Sesungguhnya seorang mukmin, jika melakukan satu perbuatan dosa, maka ditorehkan di hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, berhenti dan minta ampun, maka hatinya akan dibuat mengkilat (lagi). Jika semakin sering berbuat dosa, maka titik-titik itu akan bertambah sampai menutupi hatinya.” HR. Ahmad

Allah ﷻ berfirman,

ولوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya:”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Allah ﷻ juga berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya:“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. 42:30)

Memperbanyak Amalan Sunnah Untuk Menyempurnakan Dan Menambal Kekurangan Yang Terjadi Dalam Ibadah Wajib.

Rasulullah r bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Artinya:“Sesungguhnya perkara yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari amal seorang hamba adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi. Jika terdapat suatu kekurangan pada shalat wajibnya, Allah Ta’ala berfirman, “Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunnah yang bisa menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang?” Lalu setiap amal akan diperlakukan sama seperti itu.” (HR. Tirmidzi)

       Marilah senantiasa semangat untuk menuntut ilmu agama. Karena hanya dengan ilmulah kita bisa beribadah kepada Allah ﷻ dengan benar sesuai yang telah dicontohkan oleh Rosulullah ﷺ. Serta mampu untuk membedakan antara tauhid dan kesyirikan, Ketaatan dan kemaksiatan, kebaikan dan keburukan. Rosulullah ﷺ bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya:”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah

       Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita keistiqomahan dalam beriman, menjauhkan kita dari kesyirikan, mewafatkan kita dalam keadaan husnul khotimah, memasukkan kita kedalam surga dan menjauhkan kita dari api neraka. Aamiin ya mujibas sailin.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat